Tahun Baru, Tahun Keberuntungan (Bagi yang Mau)

dua-perkara-keselamatan-manusia-dunia-akherat

Bila kita hitung harga satu kembang api adalah 100 ribu rupiah dan trumpet juga 100 ribu rupiah maka biaya untuk kembang api dan trumpet sudah 20 juta rupiah, ini belum termasuk biaya panggung hiburan dan sebagainya dan juga belum di lokasi atau kotakota yang lain.

Padahal ada ratusan bahkan mungkin ribuan lokasi titik perayaan tahun baru masehi di seluruh kota di Indonesia. Mereka bersifat boros terhadap uang dan waktu, padahal Allah telah memperingatkan melalui QS. Al Baqarah/ 2: 195, yaitu dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Bila kita seorang muslim, ada baiknya mencermati terlebih dahulu asal muasal perayaan tahun baru masehi. Kata masehi tidak bisa dilepaskan dengan kata Al Masih, yakni nama lain dari Nabi Isa dalam keyakinan agama Nasrani. Jadi budaya perayaan tahun baru bukan budaya Islam. Perayaan hanyalah sebuah kesenangan sementara yang penuh dengan hedonism yang dilarang dalam agama Islam.

Mencermati fakta historisnya, maka merayakan tahun baru masehi adalah sesuatu yang terlarang bagi muslim. Karena kaum muslim dilarang menyerupai kaum kafir baik secara umum maupun khusus.

Secara umum, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad). Firman Allah di dalam QS. Al Maidah/ 5: 51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Kalimat yang semakna dengan hedonism terdapat di dalam QS. At Takatsur yang dalam terjemahan versi Depag RI diterjemahkan sebagai “bermegah-megahan” dengan membubuhkan catatan kaki, “bermegah-megahan dalam perihal anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya.” Al-Qur’an telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada terhadap penyakit ini dengan sangat keras dengan ancaman siksaan yang amat pedih, baik ketika berada di alam barzakh maupun di alam akhirat kelak.

Hal ini terlihat jelas bahwa maksud dari firman Allah, “Alhaakumuttakatsur” adalah ancaman terhadap orangorang yang selama hidupnya hanya sibuk mengurusi urusan-urusan duniawi sampai mereka masuk ke liang lahat sedang mereka tidak sempat bertaubat.

Mereka pasti akan mengetahui akibat perbuatan mereka itu dengan “ainul yaqin.” ‘(Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat). Sebagai orang Islam yang mau mengubah dirinya menjadi lebih baik maka seharusnya memperhatikan firman Allah berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr/ 59: 18).

Dari Qur’an Surat Al Hasyr/ 59: 18 tersebut diatas jelas bahwa kita hidup di dunia ini hendaklah memperhatikan apa yang telah kita perbuat untuk hari esok yakni akhirat.

Tetapi mari kita lihat apa yang selalu terjadi di sekitar kita pada saat menjelang, menyambut dan merayakan tahun baru! Yang terjadi dari tahun ke tahun tidak semakin menunjukkan budaya orang timur yakni budaya beragama, sopan- santun atau bergotong royong tetapi yang terjadi semakin meniru budayawesternizes.

Mulai dari tempat penginapan, hiburan dan rekreasi mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar, dari yang murah sampai dengan yang mahal mereka habiskan hanya untuk kenikmatan sesaat. Terbukti mereka hanya menikmati perayaan tersebut pada saat menjelang, menyambut dan merayakan malam pergantian tahun baru, setelah itu mereka pulang ke tempat tinggal mereka masing- masing.

Tempat- tempat hiburan tersebut tidak luput dari suguhan hiburan, hiburan yang seharusnya kita hindari. Karena sebagian besar dan bahkan semua penghibur tersebut menampakkan AURAT yang tidak seharusnya ditampakkan. Apakah mereka TIDAK TAHU OR TIDAK MAU TAHU?

Padahal ALLAH SWT telah membatasi AURAT yang bisa diperlihatkan atau yang tidak bisa, baik laki- laki or perempuan.

Melalui Q. S An Nur/ 24: 30 – 31 Allah berfirman: 30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:

“Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat” . 31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau puteraputera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau puteraputera saudara lelaki mereka, atau puteraputera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orangorang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dari ayat diatas jelas, aurat manakah dan kepada siapakah bisa ditampakkan.Nabi SAW bersabda mengenai aurat wanita dan laki- laki: Aurat wanita di luar rumah. ‘Aisyah berkata: Sesungguhnya Asma’ binti Abu Bakar pernah datang menghadap Nabi SAW dengan berpakaian tipis, maka beliau berpaling daripadanya dan bersabda, “Hai Asma”!, sesungguhnya seorang wanita apabila sudah baligh tidak boleh terlihat padanya melainkan ini dan ini” , beliau sambil mengisyaratkan kepada wajah dan dua tangannya. [HR. Abu Dawud]

Dan dari Abu Hurairah, ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda, “Dua macam orang ahli neraka yang belum aku lihat, yaitu kaum yang memegang pecut (cemeti) bagaikan ekor lembu yang digunakan untuk memukul orang- orang dan orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang dan berlenggak- lenggok kepalanya bagaikan punuk unta yang miring. Maka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapat baunya, padahal bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian- sekian (jarak yang sangat jauh)” . [HR. Muslim]

Allah SWT juga memerintahkan kepada nabi SAW dan seluruh manusia melalui firman- Nya di dalam QS. Al Ahzaab: 59 Hai Nabi, katakanlah kepada istri- istrimu, anak- anak perempuanmu dan istri- istri orang mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka” .

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Adapun aurat laki- laki sepanjang riwayat ialah antara pusar dan lutut.

Demikianlah saudaraku, Allah memberikan yang terbaik bagi hamba- Nya dan diingatkan pula melalui rasul- Nya nabi SAW. Mau terus menerus mengabaikan perintah ALLAH SWT or taubat yang sesungguhnya? Lantas apakah yang harus kita kerjakan pada malam tahun baru? Qiyamul lail, berfoya- foya ataukah Dzikir massal? Tentu yang lebih selamat adalah qiyamul lail dengan memperpanjang dzikir.

Qiyamul lail dan dzikir akan menjadi salah satu obat hati manusia yang hatinya sakit, yaitu yang hanya mengutamakan hawa nafsu. Dengan sering melaksanakan qiyamul lail (sholat malam), terutama shalat tahajjud akan semakin mendekatkan kita kepadaNya. Apalagi Allah juga telah menjanjikan akan memberikan “derajat yang tinggi” bagi orang yang sering bangun malam untuk beribadah kepada-Nya. Segala kegelisahan, kegundahan, kesedihan, kekhawatiran akan hilang semuanya, jika sering melaksanakan “qiyamul lail” .

Sobatku Muslim! Dari hari ini menuju ke hari berikutnya, dari bulan ini menuju ke bulan berikutnya, dari tahun ini menuju ke tahun berikutnya begitu terus bergantian, dari pergantian tersebut maka akan bergantilah angka usia kita (saat ini Januari 2016 usia kita 35 tahun, maka Januari tahun depan kita berusia 36 tahun, jika kita mengaku sebagai orang Islam yang beriman hendaklah kita bersyukur karena masih dipertemukan pada tahun baru (1 Muharam 1437 H dan juga 1 Januari 2016), maka mari kita gunakan untuk introspeksi diri, bagaimanakah dengan ibadah kita pada tahun lalu?

Sudahkah lebih besar daripada aktifitas DUNIAWI kita atau bahkan lebih kecil? Dan janganlah kita mengikuti kebanyakan orang- orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (hura- hura, makan- makan, pesta dll) karena sesungguhnya dengan bertambahnya angka usia kita, kita akan semakin dekat pada kematian. Dan sungguh benar kita akan mendapati kematian serta tidak akan bisa lari dari kematian walaupun kita bersembunyi di benteng yang tinggi lagi kokoh (QS. An Nisa/ 4: 78).

Sungguh dunia berjalan mundur (ke belakang) dan akhirat berjalan maju (ke depan) dengan cepat, hari ini amal tanpa hisab dan di hari esok adalah merupakan hisab tanpa amal, berkata Jibril AS. kepada Rasulullah SAW. Jalanilah hidup semaumu, sesungguhnya kamu pasti mati, silahkan kamu cintai orang yang ingin kau cintai, sesungguhnya kamu pasti berpisah dengannya, lakukan apa saja yang kamu inginkan, sesungguhnya kamu pasti mendapat balasannya …. (HR. Hakim, Thabrani, Abu Dawud).

Sedangkan orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk mati, mereka itulah orang- orang yang cerdik, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat” . (HR. Ibnu Abid-Dunya di dalam kitabul-Maut dan Thabrani di dalam Ash-Shaghir).

Sungguh jelas bahwa agama Islam mengajarkan kepada manusia untuk tidak mengikuti apapun dari orang yang tidak tahu pengetahuan tentangnya. Firman- Nya di dalam Q. S Al Israa’/ 17: 36 yang artinya:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Sedangkan di ayat lain, yakni di dalam Q. S Al An ‘am/ 6: 116

Allah berfirman: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Untuk itu Allah juga mengingatkan kaum muslimin.

Firman- Nya, “Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (AS. Ali Imran/ 3: 196-197).

Maksudnya, kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka jangan sampai memperdayakan kamu sebab mereka itu hanya sedikit mendapat keni’matan duniawi.

Oleh karena itu, Allah mengancam kepada orangorang kafir dengan firman-Nya sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka sedikitpun, dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” . (QS. Ali Imran/ 3: 116).

Hendaknya bagi segenap kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam gaya hidup hedonistik yang dewasa ini telah membudaya di kalangan umat Islam sendiri.

Kecintaan terhadap sesuatu yang bersifat bendawi, hen daknya jangan sampai melupakan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, apalagi sampai mengorbankan aqidah Islamiyyah yang dengan susah payah dibangun sejak kecil sampai dewasa.

Allah telah berpesan kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Karena hanya kaum Muslimin yang memiliki masa depan.

Kehidupan dunia bukanlah masa depan, sebab kehidupan dunia adalah“maata’un qolil” yang serba semu dan penuh dengan tipu daya.

Dengan demikian agama Islam adalah harga mati yang tidak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini kecuali keridha’an Allah. Untuk itu melalui tulisan ini, penulis mengingatkan diri penulis, keluarga dan saudara- saudara penulis yang seiman bahwa hendaklah kita memperbanyak amal ibadah kita karena kematian akan datang setiap saat.

Marilah kita hanya mengikuti nabi SAW jika kita mengaku umatnya yang menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Pesan beliau:“Taroktufiikum amroini lan tadlillu maamasaktum bihimaa kitaaballahu wa sunatu rosulillah” Aku tinggalkan dua perkara kepadamu, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, maka kamu tidak tersesat yaitu kitab Allah (Qur’an) dan sunnah Rasul (HR. Bukhari – Muslim).

Walaupun tahun baru datang, dzikir tetap jalan sehingga kita termasuk orang- orang yang memberi manfaat kepada manusia dikarenakan “…Sebaik-baik manusia adalahyang paling bermanfaat bagi sesama manusia…” (HR. Thabrani).

Dan kita termasuk orang- orang yang selalu menggunakan akal sehat kita demi keselamatan hidup kita, di karenakan orang- orang yang berakallah orang yang mau memperhatikan hari esok (akhirat) dan sehingga kita di tahun baru, baik di tahun baru Hijriah maupun di tahun baru Masehi kita beruntung.

Oleh Sutanto, M.Pd Dosen Bahasa INggris FIK Universitas Muhammadiyah Ponorogo. (Ketua Pemuda MTA Kab.Semarang)

Melayani, Mendidik, Mengawasi dan Menguji Dengan Hati

melayani-anak

Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Kehidupan antar manusia senantiasa diwarnai 4 hal, yaitu melayani, mendidik, mengawasi, dan menguji. Hal ini bisa berlaku di segala lingkungan, baik dalam sebuah keluarga , dalam dunia pendidikan, lingkungan kedinasan, lingkungan perkantoran termasuk lingkungan perusahaan dan bahkan sampai di lingkungan lembaga pemasyarakatan ataupun dalam lingkungan-lingkungan yang lainnya.

Para Nabi dan Rasul dikatakan mereka biasanya tumbuh dari muda sebagai penggembala. Penggembala kambing, yang harus mengawasi dan melayani kambing-kabing ternak mereka. Bagaimana ternak ternak itu dicarikan tempat merumput yang hijau dan juga tempat berteduh yang aman. Demikian pula bagaimana usahanya untuk mengobati hewan-hewan yang sakit dan juga membuat seluruh yang digembala menjadi nyaman. Demikian pula harus mengawasi dan melindungi kambing-kambing dari terkaman serigala, atau dari ulah agresip diantara kambing-kambing yang kuat kepada kambing-kambing yang lemah.

Segala puji bagi Allah dialah Tuhan semesta Alam, Tuhan pencipta, pemilik, pemelihara semesta Alam, manusia diperintah untuk rajin beribadah kepada Allah Tuhan semesta Alam, Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Manusia yang rajin menyembah kepada-Nya maka Allah akan limpahkan IMAN dan TAQWA kepadanya, dan akan pula diberi limpahan dengan sifat-sifat baik dan mulia kepada mereka, yang akan menjadikan mereka sebagai manusia yang bijaksana di dalam menghadapi dan menyelesaikan segala masalah kehidupan. Allah berfirman dalam beberapa ayat

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ ﴿٢٦٩﴾

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269)

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْماً وَعِلْماً وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿٢٢﴾

Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepandanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 12:22)

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيّاً ﴿١٢﴾

Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. (QS. 19:12)

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ ﴿٧٩﴾

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum(yang lebih tepat): dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya. (QS. 21:79)

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْماً وَعِلْماً وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٤﴾

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepadaorang-orang yang berbuat baik. (QS. 28:14)

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ ﴿٢٠﴾

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (QS. 38:20) 

Dengan ilmu dan hikmah yang Allah berikan kepada umat manusia maka kehidupan akan berjalan dengan lebih tertata, lebih teratur dan lebih serasi dan lancar. Lebih lebih lagi bila semua manusia di dunia ini mau membaca, mempelajari, menghayati dan mengaplikasi Al-Qur’an yang Allah turunkan, karena Al-Qur’an adalah kitab penuh Hikmah.

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ ﴿١﴾

Alif Laam Raa’. Inilah ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung hikmah. (QS. 10:1)

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ ﴿٢﴾

Demi al-Qur’an yang penuh hikmah, (QS. 36:2)

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ ﴿٤﴾

Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS. 43:4)

Allah telah menurunkan kitab yang penuh HIKMAH, untuk dapat memahami hikmah-hikmah yang ada di dalamnya maka Allah SWT mengutus seorang Nabi yang akan menjabarkan segala hikmah yang ada dalam Kitab Suci Tersebut. Bagi orang awam di jaman ini, ketika tidak lagi menemui langsung para Nabi maka setidaknya mereka harus menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Kitab Suci Tersebut.

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ ﴿١٥١﴾

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. 2:151) 

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ ﴿١٦٤﴾

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. 3:164)

Untuk dapat menangkap HIKMAH yang Allah turunkan, syarat mutlak yang harus ada adalah manusia harus mensucikan diri terlebih dahulu dari perbuatan dosa. Manusia manusia yang masih suka bergelimang dalam dosa, masih merasa nyaman dengan mengikuti syaitan dan hawa nafsu, maka tidak akan mampu menangkap hikmah yang Allah berikan kepada meraka. Namun kengganan manusia untuk menerima hikmah dari Allah hanya akan membawa mereka berakhir ke dalam siksa API NERAKA

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ ﴿٢٧﴾

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (QS. 38:27)

  1. Lingkungan Pendidikan

Peran Guru adalah peran yang sangat penting, misalnya GURU yang mengajar tentang masalah ketrampilan dunia, maka guru tersebut harus mampu untuk segera cepat menangkap sesuatu yang baru dan dianggap sulit oleh orang awam, sehingga dengan kelebihan kepadainnya itu maka para GURU akan bisa mengajari muritnya untuk menguasai ketrampilan tersebut dengan lebih cepat dan tepat.

Bila setiap guru memiliki hati nurani yang bersih memiliki iman dan taqwa , maka mereka akan mengajari dan mendidik murit nya dengan hati. Mereka mengajari dan mendidik muritnya tidak sekedar mengejar Gaji bulanan yang akan dia terima, namun dibalik itu dia ingin mendapatkan balasan dari setiap perbuatan baiknya yang telah ia lakukan kepada murit muritnya untuk mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT.

Guru disatu sisi harus mendidik muritnya untuk memiliki akhlaq yang baik. Sehingga ilmu ketrampilan Dunia yang ditularkan kepada muritnya nantinya akan digunakan untuk berbuat baik. Guru yang baik juga menyadari bahwa dia harus mencetak generasi penerus yang lebih baik dan lebih unggul dari pada dirinya.

Apalagi guru yang mengajarkan tentang masalah moral, akhlaq dan agama. Lemahnya generasi penerus dalam menghayati dan mengamalkan masalah agama, boleh jadi disebabkan kesalahan para guru dalam membawakan dan menyampaikan ilmu tersebut kepada muritnya. Mungkin sang guru sendiri belum mampu mengimani dan mengamalkan ilmunya dengan benar, sehingga akhirnya murit kesulitan dalam memahami dan mengamalkan.

  1. Lingkungan Keamanan dan Ketertipan Umum

Keberhasilan di dalam lingkungan pendidikan akan berimbas kuat kepada lingkungan keamanan dan ketertipan. Seharusnya apa yang di utamakan di lingkungan keamanan dan ketertiban adalah usaha PENCEGAHAN sebelum PENINDAKAN.

Bila para petugas Keamanan dan ketertiban bisa melakukan 3 hal saja kepada masyarakat mungkin saja langkah pencegahan akan menyelesaikan tanpa lagi penindakan. Mendidik, menguji dan mengawasi, adalah 3 hal yang akan memastikan bahwa seluruh masyarakat sudah memahami akan cara-cara mewujudkan keamanan dan ketertipan.

Disamping itu aparat harus juga memiliki jiwa melayani. Melayani bukanlah pekerjaan rendah seperti yang kita anggap rendahnya pandangan orang terhadap pelayan rumah tangga. Namun seorang pelayan yang berbuat dengan Hati, berbuat karena didasari dengan ilmu, iman dan amal sholih, maka apa yang dilakukannya untuk melayani, adalah tabungan pahala yang melimpah ruah di Akherat di sisi Allah SWT.

Boleh jadi simulasi simulasi tentang mendidik, menguji dan mengawasi masyarakat belum pernah diteliti dan diterapkan dalam pelaksanaan sebuah peraturan tentang keamanan dan ketertipan, sehingga banyak orang yang tidak tahu bahwa dirinya telah melanggar keamanan dan ketertipan. Atau juga karena masyarakat sering melihat ketidak adilan ditengah penertiban dan pengamanan, sehingga masyarakat lebih suka mengambil jalan pintas untuk tidak tertip dan tidak aman.

Menertibkan dan mengamankan dengan HATI, dengan ilmu, iman dan amal sholih, setidaknya seorang petugas keamanan dan ketertipan akan berpikir dan menggunakan dengan rasa hati, bila saja masalah masalah sulit itu mengenai keluarga atau dirinya sendiri. Disamping itu juga ketidak tepatan dalam menyelesaikan masalah, atau kesalahan yang disengaja dalam menyelesaikan sebuah masalah, hal buruk tersebut akan dapat menjadi balasan buruk yang akan kembali kepada diri masing-masing petugas.

Rasulullah mengingatkan kepada kita untuk berhati-hati dengan akibat buruk dari perbuatan dzalim dan juga hati-hati dari do’a orang yang di dzalimi, karena tidak ada hijab antara dia dengan sang Pencipta (Allah SWT) walaupun yang berdoa itu orang yang masih Kafir.

  1. Lingkungan Perusahaan dan Lingkungan Yang lain

Dalam dunia perusahaan yang mengejar keuntungan yang diharapkan terus membesar, biasanya 4 hal penting melayani, mendidik, mengawasi dan menguji merupakan sesuatu yang terus menerus dilakukan penyempurnaan.

Bila perusahaan ingin tetap berdiri dengan kokoh dan kuat maka empat hal tersebut sering dijabarkan dengan sangat rinci dan kemudian sering juga disimulasi dan kemudian terus menerus dilakukan penyempurnaan padanya. Keuntungan materi yang segera didapat oleh perusahaan menjadikan setiap masalah yang menyangkut kemajuan perusahaan menjadi sesuaatu yang penting untuk diperbaharui dan disosialisasikan pada seluruh pihak yang berhubungan dengannya.

Sebenarnya 4 hal penting yaitu melayani, mendidik, mengawasi dan menguji bukanlah menjadi hal yang penting hanya di sebuah perusahaan yang terus ingin maju. Namun juga di setiap lembaga apapun yang ingin terus maju. Termasuk di dalam lembaga lembaga DAKWAH pun juga harus mengikuti , disana sini kita melihat perusahaan yang maju pesat dan terus menyempurnakan diri dengan berbagai inovasi-inovasi yang menjadikan perusahaan semakin kokoh dan besar.

Maka demikian pula sebuah LEMBAGA DAKWAH yang punya potensi untuk tumbuh membesar, kokoh kuat dan MENGGLOBAL maka proses melayani, mendidik, mengawasi dan menguji perlu di wujudkan dalam setiap proses membangun seluruh elemen dakwah, Dengan proses proses yang telah definitip, maka memudahkan seluruh elemen-elemen pendukung dakwah untuk mengukur tingkat keberhasilan dakwah dan tetap menjaga agar semua elemen dakwah dalam kondisi optimal.

Namun semuanya itu tetap saja tidak akan pernah lepas dari kehendak Allah SWT. La hawla wala quwwata ila billah (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali semua dengan kehendak dan pertolongan Allah SWT). Manusia hanya bisa berusaha dan menyempurnakan diri pada hukum sebab akibat yang diketahui. Namun sebab sebab lain yang belum dan tidak diketahui tentu lebih banyak lagi.   Wallâhu a’lam

Larangan Menyekutukan Allah dengan Kesuksesan Dunia

kemewahan-dunia-mta

Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Rasulullah telah menyampaikan bahwa barang siapa yang menghayati 10 ayat awal S Al-Kahfi atau juga 10 ayat akhir S Al-Kahfi, agar terjaga dari fitnah Dajjal. Dan bila kita mau membaca surat tersebut, diawal surat tersebut ada sekelompok manusia yang mengatakan bahwa Tuhan beranak, dan di akhir surat tersebut diperintahkan kepada orang beriman untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Surat Al-Kahfi, didalamnya ada kisah pemuda-pemuda beriman yang diselamatkan oleh Allah, disebabkan karena mereka memagang teguh iman yang lurus mereka terpaksa harus mengasingkan diri, adan akhirnya ditidurkan oleh Allah SWT selama 300 tahun lebih 9 tahun, atau ditidurkan oleh Allah selama 3 Abad. Begitu pentingnya Aqidah Tauhid, keyakinan hati untuk Mengesakan Allah, sampai-sampai mereka harus mengasingkan diri karena memegang Aqidah Tauhid.

Zaman Modern Zaman penuh gemerlapnya Harta Benda, S Al-Kahfi memberi pelajaran tentang dua orang, yang satu menyekutukan Allah dengan harta benda, yang satunya lagi meyakini bahwa segala harta benda sebagai alat untuk bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلاً رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعاً ﴿٣٢﴾ كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئاً وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَراً ﴿٣٣﴾ وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالاً وَأَعَزُّ نَفَراً ﴿٣٤﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَذِهِ أَبَداً ﴿٣٥﴾ وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْراً مِّنْهَا مُنقَلَباً ﴿٣٦﴾

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang diantara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan diantara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. (QS. 18:32)

 Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,” (QS. 18:33)

 dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia:”Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. (QS. 18:34)

 Dan dia memasuki kebunnya sedang ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata:”Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (QS. 18:35)

 dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”. (QS. 18:36) 

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً ﴿٣٧﴾ لَّكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَداً ﴿٣٨﴾ وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً ﴿٣٩﴾ فَعَسَى رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْراً مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَاناً مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيداً زَلَقاً ﴿٤٠﴾ أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْراً فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَباً ﴿٤١﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَداً ﴿٤٢﴾ وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِراً ﴿٤٣﴾ هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَاباً وَخَيْرٌ عُقْباً ﴿٤٤﴾

 Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya :”Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna (QS. 18:37)

 Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. (QS. 18:38)

 Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu“Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, (QS. 18:39)

 maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; (QS. 18:40)

 atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. (QS. 18:41)

 Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.(QS. 18:42)

 Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya, (QS. 18:43)

 Disana pertolongan itu hanya dari Allah yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan. (QS. 18:44) 

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاء أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِراً ﴿٤٥﴾ الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً ﴿٤٦﴾

 Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 18:45)

 Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. 18:46)

Ayat 32 sampai ayat 36 adalah sikap hati dan perasaan orang yang bangga diri dengan harta, kekuasaan, dan segala usaha-usaha sukses di dunia. Seolah semuanya sudah final, tidak hirau dengan kehidupan akherat, dan bahkan dia merasa bahwa dengan kesuksesan dalam harta benda dan kekuasaan di dunia itu, besok di akherat akan ditempatkan di tempat yang terhormat.

Ayat 37, adalah sikap hati seorang mukmin, seorang beriman, mengingatkan kepada dirinya bahwa dirinya tidak berdaya sama sekali, bahkan Allah SWT lah telah menumbuhkan dirinya dari setitik air mani, dirinya benar-benar tidak berdaya.

Sikap seorang mukmin harus selalu sadar bahwa apapun pertumbuhan yang ada di muka bumi, dari zaman duli hingga saat ini, dalam segala usahanya disana ada campur tangan Allah, sehingga setiap manusia harus mengutamakan untuk selalu beribadah kepada Allah, dan aktifitas yang lain juga merupakan aktifitas syukur kepada Allah.

Ketika segala usahanya berhasil maka apa yang harus diucapkan adalah,“Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Dan hati serta perasaan semua diposisikan untuk selalu menyadari bahwa keberhasilan itu adalah atas pertolongan Allah semata.

Ayat 40 sampai ayat 44, ketika orang yang membanggakan hartanya, usahanya, dunianya, dan kemudian tiba-tiba terkena musibah , dan bahkan terkena bencana kehancuran, barulah sadar bahwa memang sikap hatinya selama ini salah. Seharusnya manusia tidak membanggakan dirinya, usahanya, atau kesungguhannya dalam menggapai kesuksesan dunia, namun seharusnya semuanya itu dikelola dalam rangka mengagungkan Allah, bersyukur kepada Allah.

Ayat 45 dan 46, Allah SWT memberitahu tentang hakekat kehidupan dunia, antara pertumbuhan dan kemunduran senantiasa silih berganti. Ibarat musim yang selalu berganti, antara kering dan hujan, antara panas dan dingin, demikian pula belum tentu usaha yang dilakukan senantiasa sukses dan menuai keberhasilan, namun juga sering harus gagal dan menuai kebangkrutan.

Allah menunjukkan jalan-jalan yang selalu menuai keuntungan, Jalan yang kekal di dalam menuai keuntungan,

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً .

Para ulama berusaha menjelaskan tentang sesuatu yang utama dalam kehidupan di dunia ini yaitu, “al-baaqiyaatush sholihah” sebuah amal yang lebih baik disisi Allah dan lebih kekal disisiNya, dibanding sekedar kerja keras membangun dunia tanpa ada tujuan ibadah kepada Allah.

Ibnu Abbas dan Said bin Jubair mengatakan “al-baaqiyaatush sholihah”   adalah sholat wajib lima waktu. Ada juga yang mengatakan ia adalah kalimat dzikir subhânallâh, alhamdulillâh, lâ ilâha illallâh, allâhu akbar, lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyil ‘azhim.

Namun ada pula yang menyebutkan seluruh amal kebaikan yang dituntunkan oleh Islam, seperti mendirikan sholat, berpuasa, membayar zakat, berhaji, membebaskan budak, jihad di jalan Allah, menyambung silaturahmi, perkatan yang baik dll.

Dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu semua karena menjalankan ketaatan kepada Allah maka amal-amal tersebut akan mendapatkan pahala yang akan dipetik di dunia dan di akherat kelal selamanya.

Zaman modern, zaman melimpah harta benda, bila manusia tidak mendasari diri dengan ilmu Islam, iman dan amal sholih serta taqwa kepada Allah, maka waktu manusia bisa habis sekedar untuk diisi dengan aktifitas kesenangan dunia tanpa ada tujuan ibadah kepada Allah. Dunia yang gemerlap bisa menyilaukan manusia sehingga banyak manusia yang melupakan Allah karena sangat sibuk dengan aktifitas kesuksesan membangun dunia.

Rasulullah telah bersabda kepada kita semua, tentang taman-taman surga di dunia yang disana selalu didatangi para malaikat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melewati taman Surga, maka perbanyaklah dzikir!” Aku katakan; apakah taman Surga itu wahai Rasulullah? Beliau mengatakan: “Kelompok-kelompok dzikir (majlis ilmu).” (TIRMIDZI – 3432)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ الْمَسَاجِدُ قُلْتُ وَمَا الرَّتْعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melewati taman Surga, maka merumputlah!” Aku katakan; apakah taman Surga itu wahai Rasulullah? Beliau mengatakan: “Masjid-masjid.” Aku katakan; dan apakah rumputnya wahai Rasulullah? Beliau mengtakan: “SUBHAANALLAAHI WAL HAMDULILLAAHI WA LAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR” (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar). (TIRMIDZI – 3431)

Segala puji bagi Allah, sesaknya aktifitas membangun dunia di zaman ini seringkali manusia sangat disibukkan dengan berbagai urusan phisik dan materi, sehingga kadang sesuatu yang lebih kekal dan merupakan kebutuhan jiwa terlalaikan. Sehingga jiwa semakin rapuh dan semakin mudah berpaling kepada dunia yang semakin gemerlap.

Marilah kita ingat kembali tentang asal-usul kita, dan tujuan akhir kita, dan sekaligus marilah kita isi kehidupan di dunia ini dengan kebaikan-kebaikan yang bersifat KEKAL. Sesuai yang diajarkan oleh Allah SWT lewat Rasulullah Muhammad SAW

Wallâhu a’lam

Mengkalkulasi PEMBOROSAN

hidup-boros

Segala puji hanya pantas untuk Allah SWT semata. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan kepada seluruh kita yang selalu menempuh jalan hidayah-Nya. Salam untuk seluruh Nabi Nabi dan Rasul-Nya.

Kedatangan sang Messiah (Nabi Isa) di zaman lampau tentu sebagai sesuatu yang ditunggu tunggu oleh orang-orang sholeh di waktu itu, dan ternyata Nabi Isa telah diutus ke muka bumi agar manusia kembali kepada jalan Allah SWT, yaitu jalan Iman dan amal sholih, jalan ingat kepada Allah dan hari akhirat, jalan kebenaran dan keadilan.

Kisah rencana pembunuhan kepada Nabi Isa telah juga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, karena apa yang dibawa oleh para Nabi adalah jalan keutamaan yang biasanya dirasakan asing oleh umat manusia di zaman itu, zaman yang biasanya bergelimang dengan berbagai pesta pemuasan hawa nafsu. Sebagaimana firman-Nya

وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَاناً عَظِيماً ﴿١٥٦﴾ وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً ﴿١٥٧﴾ بَل رَّفَعَهُ اللّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً ﴿١٥٨﴾ وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً ﴿١٥٩﴾

 Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), (QS. 4:156)

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. 4:157)

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 4:158)

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS. 4:159)

Seorang Nabi, seorang Rasul, atau dalam bahasa umum dikatakan seorang Messiah (pembawa kebenaran Universal), diutus oleh Allah ke dunia untuk membimbing suatu bangsa dari berpola kehidupan yang berkwalitas rendah menuju jalan kehidupan berkwalitas tinggi dan mulia.

Seorang Nabi, Rasul atau Messiah dikirimkan oleh Allah ke suatu bangsa agar dijadikan sarana terangkatnya bangsa tersebut kepada tingkat kehidupan yang Mulia dan bermartabat tinggi, dan Allah berikan rahmat kepada mereka. Namun dari zaman ke zaman para Nabi, Rasul dan para Messiah selalu menghadapi keadaan yang sebaliknya, dilawan, dihadang, dihambat, dimusuhi, difitnah, di-cacimaki, dan bahkan di bunuh.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ ﴿١١٢﴾

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)

Apa yang dibawa seorang Nabi dan Rasul sesuatu yang berkwalitas Tinggi dan Mulia, sebaliknya apa yang terjadi pada saat dikirimnya Nabi dan Rasul biasanya adalah saat-saat sebuah bangsa mengalami kemerosotan moral. Allah berkehendak mengangkat bangsa tersebut, sehingga tugas seorang Nabi adalah untuk mengangkat kembali kwalitas moral bangsa tersebut.

Namun kadang-kadang bila terlalu pekatnya dosa dosa suatu bangsa, maka nasehat nasehat baik seorang penyeru kebaikan sering diabaikan. Ketika hati manusia sedang terbuai dalam lezatnya perbuatan dosa maka sering para Nabi dan Rasul yang hendak membimbing mereka kepada jalan hidup kemuliaan malah mereka hinakan dan bahkan mereka bunuh, sebagaimana firman-Nya

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ ﴿١١٢﴾

 Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. 3:112)

Nabi Isa AS telah lewat dari zaman kini 2000 tahun lamanya, dan apa saja yang diajarkan oleh Nabi Isa pun sesuatu yang mengajak Manusia untuk Bertauhid Mengesakan Allah SWT, dan mengajari manusia untuk beribadah tunduk patuh kepada Allah SWT,

وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ﴿١١٦﴾

 Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. 5:116)

Nabi Isa diperintah oleh Allah untuk membimbing Bani Israil untuk menegakkan sholat dan membayar zakat, dan Nabi Isa diutus pula untuk membantu orang-orang miskin dan orang-orang yang sakit dan sedang tertimpa musibah, sehingga Nabi Isa mengajak sahabat sahabatnya untuk selalu menolong orang-orang yang sedang menderita baik sakit atau miskin.

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً ﴿٣٠﴾ وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً ﴿٣١﴾

 Berkata Isa:”Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia manjadikan aku seorang Nabi. (QS. 19:30)

dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, (QS. 19:31)

Nabi Isa diberi mu’zizat untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, termasuk dalam menolong orang sakit dan orang miskin.

وَرَسُولاً إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْراً بِإِذْنِ اللّهِ وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ والأَبْرَصَ وَأُحْيِـي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللّهِ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٤٩﴾

 Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka):”Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seijin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman”. (QS. 3:49)

Para Nabi adalah membimbing sebuah bangsa untuk memiliki perbuatan-perbuatan Utama dan perbuatan Mulia, sehingga Allah kemudian akan mengangkat mereka kepada derajad yang tinggi dan mulia.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مِّعْرِضُونَ ﴿٨٣﴾

 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu):”Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. 2:83)

Bila manusia mau mencermati apa yang dilakukan oleh Nabi Isa saat 2000 tahun yang lalu adalah mengeluarkan manusia dari jalan hidup yang salah kepada jalan hidup yang benar dan mulia.

Manusia begitu mudah untuk mengeluarkan dana untuk berpesta pora, padahal sering-sering sebuah pesta pora itu hanya menghadirkan kesenangan sesaat, dan sering-sering dalam pesta sesaat itu dibumbui dengan pesta puncak nafsu hewaniah, syaitoniyah, yang sering membawa manusia semakin tenggelam dalam kelamnya kenikmatan perbuatan DOSA BESAR.

Orang begitu mudah untuk membeli Dosa Besar dengan uang yang dimilikinya, itulah bujuk rayu syaitan yang berhasil menipu daya umat manusia.

Bisa dibayangkan, seandainya seluruh manusia mau beriman kepada Allah dan hari akhir dengan sebenar-benarnya, tentu mereka tidak akan membelanjakan dan menyia-nyiakan segala nikmat yang Allah berikan pada jalan Dosa dan Kemaksiyatan.

Pesta Klub Malam, Pesta Dansa Dansi, Pesta Minum minuma keras, Pesta Prostitusi, Pesta Makan Minum yang berlebihan, Dan semua itu biasanya membutuhkan biaya yang sangat besar, karena memang itu budaya import dari Negara-negara Kaya. Sehingga betapa pemborosan telah terjadi luar biasa.

Bila manusia hendak mengikuti jejak Nabi Isa dengan sebenarnya, maka jalan iman dan amal sholih harus mereka jalani, sehingga mereka bisa menyalurkan Dana-Dana yang mereka miliki untuk berbuat baik sebagaimana Nabi Isa telah berbuat baik.

Dan pasti Nabi Isa pasti melarang umatnya untuk berpesta pora, atau pesta Kembang Api, dan pesta-pesta menghambur hamburkan uang sekedar untuk memuaskan hawa nafsu syahwat.

Trilyunan Rupiah atau bahkan untuk seluruh dunia mungkin mencapai Trilyunan Dollar bisa terkumpul dari biaya pesta pora di awal Tahun Masehi, betapa besarnya biaya itu dan seandainya biaya itu bisa dikumpulkan dan dijadikan biaya AMAL SOSIAL KEMANUSIAAN.

Betapa kebaikan itu akan dapat dirasakan oleh siapapun baik yang menyantuni dan yang disantuni. Dan pahala akan mengalir kekal di dunia dan di akherat bagi mereka yang beramal ikhlas karena Allah semata.

Seandainya Nabi Isa Masih hidup di Zaman ini, dan seandainya para seluruh pengikut Nabi Isa semuanya setia dengan Nabinya tentu masalah penderitaan Sosial di segala Bangsa dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Karena Nabi Isa memberi contoh nyata kepada umatnya, agar mereka Bertauhid, dan agar mereka suka menolong orang yang sedang miskin dan menderita. Dan Nabi Isa melarang Umatnya melakukan perbuatan pemborosan yang sia-sia.

Kapan di Negri ini akan muncul para pemimpin yang dicintai rakyat dan mampu membimbing bangsa ini untuk hidup berkwalitas tinggi, hidup selamat di dunia dan di akherat. Bukan hidup untuk menyiapkan tempat dan memperdalam tempatnya di NERAKA, semoga zaman zaman mendatang akan melahirkan sosok sosok pemimpin yang benar-benar BERIMAN dan selalu BERAMAL SHOLIH ikhlas karena Allah. Wallohu a’lam

Berzikir Mengingat ALLAH SWT

berzikir-kepada-allah

Segala puji HANYA untuk Allah SWT. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan kepada seluruh kita yang selalu menempuh jalan hidayah-Nya. Salam untuk seluruh Nabi Nabi dan Rasul-Nya

Zaman modern, zaman di saat ini, zaman yang terlihat penuh dengan fitnah (ujian) keimanan. Zaman yang penuh dengan pergumulan, bercampur aduk antara yang HAQ dengan yang BATHIL, rasa superioritas manusia telah melahirkan manusia manusia yang enggan diatur oleh Allah Tuhan Pencipta, Pemilik dan Pemelihara semesta Alam, dan manusia merasa puas dan nyaman dengan mengikuti pendapat Aqal dirinya tanpa mau dituntun dengan petunjuk Allah SWT.

Dijaman lampau manusia bangga dengan pendapat dirinya lewat pemahaman-pemahaman pribadi dalam beragama, sehingga memunculkan berbagai golongan dan aliran yang menyimpang dalam beragama sebagaimana firman-NYA.

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُراً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٥٣﴾

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (QS. 23:53) 

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٣٢﴾

yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. 30:32)

Namun di jaman ini ketika di zaman telah memasuki kabut gelap pekat tersebarnya perbuatan Fahsya dan Mungkar, manusia semakin bangga untuk meninggalkan agama dan dengan berani untuk menyatakan diri bahwa dirinya ATHEIS. Manusia semakin kehilangan kemampuan untuk melihat siapa dirinya dan untuk apa dia ada hidup di muka bumi.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿٢٣﴾ وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. 45:24)

Untuk kembali kepada jalan kebenaran yang Haqiqi, manusia harus segera BERHIJRAH, berhijrah dari kubangan perbuatan Fahsya dan Mungkar kepada kehidupan yang Bersih, Suci dan Mulia. Sehingga akan kembali membuka cahaya mata batin yang telah tertimbun dengan kabut gelap pekat DOSA, menuju kepada Hati yang Berpetunjuk, hati yang Bercahaya.

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴿٢٢٢﴾

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. 2:222) 

وَمَن تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ ﴿١٨﴾

Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali(mu). (QS. 35:18)

Proses Industrialisasi yang biasanya hanya ditunjukkan untuk mencapai kesenangan dan kesejahteraan materi tanpa mempertimbangkan aspek rohani telah membawa populasi manusia kepada memburu kesenangan jasmani dan lupa pada arti kehidupan dan arti kebahagiaan yang Haqiqi.

Sebagai contoh industri hiburan yang dibuat oleh orang-orang yang sekedar memburu kesenangan materi, tanpa disadari telah banyak menghancurkan iman umat beragama. Sehingga orang-orang yang mengkonsumsi hiburan tersebut menjadi manusia yang semakin tidak bisa lagi membedakan antara perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah, dan bangga menjadi manusia yang tidak beragama.

Allah SWT, Allah Tuhan pencipta, pemilik dan pemelihara semesta Alam, menguji keimanan manusia, apakah manusia akan mengikuti jalan petunjuk Allah ataukah mau mengikuji jalan yang di murkai oleh Allah.

Setelah diberi berbagai nikmat dan fasilitas di muka bumi, Allah melengkapi dengan diturunkan kepada umat manusia Rasul Rasul dari Nya dan Kitab Suci dari Nya untuk menjadi pegangan hidup umat manusia di dunia. Berbahagialah manusia-manusia yang mau kembali kepada Allah dan kembali tekun beribadah kepada-Nya, dan disanalah letak kebahagiaan yang Haqiqi dan Abadi, sejak di Dunia hingga di akherat kelak.

Bila dalam diri manusia masih ada benih-benih iman dan kemudian ingin menemukan arti haqiqi kehidupan, maka Allah SWT telah menyampaikan firman-Nya

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١﴾ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٢﴾ هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٣﴾ هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿٤﴾ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ ﴿٥﴾ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ﴿٦﴾

 Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 57:1)

Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 57:2)

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 57:3)

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 57:4)

Kepunyaan-Nya-lah kerejaan langit dan bumi, Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (QS. 57:5)

Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. 57:6)

Manusia yang masih bersih kata hatinya maka akan sangat mudah untuk memahami ayat-ayat tersebut. Karena hatinya belum termakan bisikan-bisikan syaitan yang biasanya memasukkan penyangkalan-penyangkalan kepada kebaikan kebaikan yang Allah berikan kepada manusia. Hati yang bersih dari perbuatan Dosa akan merasa tenteram dan bahagia memahami ayat ayat tersebut.

Demikian pula dalam firman yang lainnya, Allah menyatakan

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾ هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٢٣﴾ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاء الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٤﴾

 Dia-lah Allah Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 59:22)

Dia-lah Allah Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan,Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 59:23)

Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih Kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 59:24)

Hati yang masih fitroh akan bersinar-sinar menerima dan merasakan ketinggian ayat tersebut. Dan hati menjadi bahagia dan tenteram, bahwa dirinya yang penuh kelemahan ini telah diberitahu oleh Allah, bahwa dirinya punya Allah Tuhan Yang Esa dan Maha Perkasa dan Tuhan Segala sesuatu.

Hati manusia yang bersih dan terjauhkan dari segala perbuatan Fahsya dan Mungkar akan sangat memahami dan mencintai ayat tersebut, dan ayat tersebut mendatangkan rasa bahagia, rasa tenteram, dan rasa terlindung dalam dirinya, karena dirinya dilindungi oleh Allah Tuhan Yang Maha segala Maha.

وَبِالْحَقِّ أَنزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ مُبَشِّراً وَنَذِيراً ﴿١٠٥﴾ وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً ﴿١٠٦﴾ قُلْ آمِنُواْ بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُواْ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّداً ﴿١٠٧﴾ وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولاً ﴿١٠٨﴾ وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعاً ﴿١٠٩﴾ {س} قُلِ ادْعُواْ اللّهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَـنَ أَيّاً مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً ﴿١١٠﴾ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلَّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيراً ﴿١١١﴾

 Dan Kami turunkan (al-Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan al-Qur’an telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (QS. 17:105)

Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. 17:106)

Katakanlah:”Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (QS. 17:107)

dan mereka berkata:”Maha suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. (QS. 17:108)

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS. 17:109)

Katakanlah:”Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS. 17:110)

Dan katakanlah:”Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempuyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebenar-benarnya”. (QS. 17:111)

Hati yang masih bersih dan masih fitroh akan sangat bahagia mendengar atau melantunkan ayat tersebut, Betapa dirinya ingin terus untuk dapat merasakan curahan kebahagiaan dari Allah Tuhan Pencipta, Pemilik dan Pemelihara Semesta Alam.

Betapa pujian-pujian yang dilakukan dalam ibadah kepada-Nya bukan sesuatu yang sia-sia, Allah selalu mendengar dan menyambut pujian yang dilantunkan kepada Allah SWT, dan kemudian Allah membalas kepada orang-orang yang selalu MEMUJINYA agar hamba yang rajin dengan tulus beribadah dan memuji Allah pasti diberi hati yang selalu Selamat dan Bahagia dalam Rahmat-Nya dan Barokah-Nya.

Wahai umat manusia se DUNIA , Wahai umat manusia se DUNIA , Wahai umat manusia se DUNIA ……… marilah kita kembali kepada jati diri kita sebagai manusia, janganlah hati kita hanya dinyamankan dan dibius dengan hiburan-hiburan buatan manusia, tapi ambilah yang sangat dibutuhkan oleh hati manusia, yaitu selalu ingat Allah dan selalu rajin beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً ﴿٤٢﴾ هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً ﴿٤٣﴾ تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْراً كَرِيماً ﴿٤٤﴾

 Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. 33:41)

Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. 33:42)

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. 33:43)

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu’min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah:”Salam”; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (QS. 33:44)

Pilihlah Madu jangan memilih Racun, pilihlah yang menyehatkan, bukan yang membius. Manusia bukan robot-robot yang muncul dari muka bumi tanpa asal-usul. Tapi Dia adalah makhluq yang diciptakan oleh Allah dan bertugas untuk rajin selalu beribadah kepada Allah.

Dengan cara hidup yang benar maka zaman akan berubah dari zaman GELAP menuju zaman BERCAHAYA, dari zaman menuju kehancuran menuju zaman kebangkitan. Semoga manusia segera berbondong-bondong berlari kepada Allah SWT, dan kembali rajin beribadah kepada-Nya.

Bila manusia rajin untuk berbuat kesholihan , Allah pasti akan menurunkan Kedamaian dan Perdamaian dalam kehidupan Umat Manusia. Wallahu a’lam.

Hidup Dalam Ketetapan ISLAM

hidup-dalam-ketetapan-islam-artikel-islam-mta2

Hidup dalam ketetapan Islam merupakan keseharian bagi orang muslim. Sebuah kondisi dimana nilai-nilai Islam menjadi pedoman dalam menapaki kehidupan.

Dan ini bisa terwujud dengan mengamalkan perintah dan nasihat yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Disamping menjalankan perintah-Nya juga harus menjauhi semua yang dilarang-Nya.

Dengan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW seorang muslim akan mendapatkan hasil terbaik dalam kehidupannya yang akan membahagiakannya baik di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa seseorang dapat mencapai kehidupan yang baik dengan melakukan amal shaleh, sebaimana tersirat pada ayat:

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan[QS. An-Nahl ; 97]

Atas ijin Allah SWT. menjalani hidup sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah akan menjadikan seseorang itu mampu mengembangkan pemahaman yang luas dengan kecerdasan akal dan pikiran sehingga berujung kepada kemampuan untuk membedakan antara yang benar (haq) dan yang salah (batil).

Dengan membawa diri kedalam kehidupan yang di dalamnya dipenuhi cahaya keimanan juga akan meningkatkan kemampuan dalam mempertimbangkan sebuah problema yang mendalam, dan bisa berani mengambil keputusan dengan berdasarkan kepada kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Syarat mutlak untuk mendapati kehidupan yang demikian adalah dengan berada dalam kehidupan Islam yang menyeluruh. Jadi berada dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan, sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu. [QS. Al-Baqarah : 208]

Dalam kehidupan yang Islami akan terbentuk karakteristik yang akan menjamin seseorang memiliki kesempatan dan kemudahan-kemudahan dalam kehidupannya dan merupakan sebuah keunggulan bila dibandingkan mereka yang hidupnya jauh dari norma-norma Islam.

Seseorang yang menjalani hidupnya dengan kehidupan Islam yang menyeluruh dan berserah diri kepada Allah Ta’ala akan sepenuhnya berbeda dengan orang lain dalam hal cara bersikap, bertingkahlaku, maupun pola hidup kesehariannya.

Dan dalam cara berpikir, seorang muslim yang berserah diri akan berbeda dengan orang lain. Hal ini akan diketahui bagaimana mereka dalam menafsirkan atau menjelaskan sesuatu.

Seorang muslim akan berpedoman kepada kebenaran sedang orang lain akan lebih banyak terpengaruh kepada nafsunya. Seorang muslim akan selalu berpedoman kepada mengerjakan atau melakukan perbuatan yang baik (ma’ruf) dan meninggalkan perbuatan yang buruk (munkar) sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Hendaklah kamu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, atau (kalau tidak) Allah akan mendatangkan siksa (adzab) akibat dari dosa-dosamu, kemudian kamu berdoa niscaya Allah tidak akan mengabulkannya. [HR. Tirmidzi]

Melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kalau kita dalami dengan segala kemampuan kita, maka kita akan mendapatkan hikmah atas apa yang diperintahkan Allah SWT dan hikmah dari apa yang dilarang-Nya.

Yaitu orang yang beriman akan menafkahkan harta bendanya untuk mencari keridhaan Allah, Rahmat Allah dan akan digunakan untuk mendapatkan surga Allah.

Orang yang beriman semakin banyak hartanya, maka makin banyak yang digunakan untuk jalan Allah dan semakin hati-hati dalam menggunakannya serta sangat memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan Allah.

Disitulah Allah akan menambah kekayaan mereka, apa yang mereka kerjakan akan semakin mudah dan semakin banyak pula kesempatan untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah. Yang sangat menyenangkan bagi setiap orang yang beriman adalah tidak adanya kekhawatiran dalam hatinya terhadap hari depan, mereka akan memahami rahasia segala macam perintah dan larangan yang diberlakukan atas kehidupannya.

Allah menjanjikan pada mereka pahala, tidak ada rasa khawatir, dan tidak ada kesedihan bagi orang beriman seperti yang tersirat dalam firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati [QS. Al-Baqarah : 277]

Beramal baik (shaleh) agar berujung kepada manfaat haruslah disertai dengan ke ikhlasan. Karena ihklas adalah syarat mutlak diterimanya semua amal. Allah memberikan pengecualian dalam memberikan balasan (pahala) yang dikhususkan kepada orang yang ikhlas dalam mengerjakannya.

Ini tersirat dalam firman-Nya :

Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersamasama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.[QS. An-Nisaa : 146]

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda: Dari Adl-Dlohhak bin Qais, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya Allah yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi berfirman : «Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barangsiapa mengambil sekutu disamping Aku, maka amalnya itu untuk sekutu-Ku». (Rasulullah SAW bersabda ) «Wahai para manusia berbuatlah ikhlas pada amal-amal kalian, karena Allah Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi tidak mau menerima amal-amal, kecuali amal yang ikhlas untukNya. Dan janganlah kalian mengatakan : «Ini untuk Allah dan untuk sanak saudara». (Maka kalau begitu) amal itu untuk sanak saudara dan bukan untuk Allah sedikitpun. Dan jangan mengatakan : «Ini untuk Allah dan untuk kalian (para manusia)». (Kalau begitu), maka amal itu untuk kalian (para manusia) dan bukan untuk Allah sedikitpun». [HR. Al-Bazzar dan Baihaqi]

Ikhlas dalam beramal akan selalu berhadapan dengan kelicikan syaithan. Rencana syaithan untuk mengancam keikhlasan orang-orang yang beriman akan terus ada hingga hari pembalasan nanti.

Keberhasilan syaithan dalam menggoda Nabi Adam AS dan Hawa akan diteruskan sampai kepada anak cucunya. Syaithan akan menjadikan indah segala bentuk bujukannya sampai manusia tertarik untuk mengikutinya. Karena kelicikannya orang-orang yang terperdaya oleh syaithan akan memandang baik perbuatan buruknya.

Maka dari itu Allah memperingatkan kepada kita anak cucu adam agar melawan kelicikan yang dilakukan oleh syaithan dalam firman-Nya :

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‹auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman [QS.Al-A’raaf : 27]

Kepandaian syaithan dalam menyesatkan manusia tidak lepas dari kesempatan yang diberikan oleh manusia itu sendiri yang memberi peluang masuknya bisikan-bisikan syaithan dalam hatinya.

Sehingga syaithan mampu merubah pandangan manusia terhadap sesuatu yang buruk menjadi baik di hati dan pikirannya. Ayat tersebut diatas adalah rahasia penting yang diungkapkan Allah Ta’ala agar manusia yang beriman akan kebenaran Al-Qur’an selamat dari dari bisikan syaithan.

Syaithan akan selalu berusaha menyesatkan dan memalingkan manusia dari jalan Allah. dan syaithan akan selalu berusaha agar manusia sibuk dengan perbuatan yang sia-sia. disamping itu syaithan juga akan selalu menanamkan perasaan sedih dan takut pada manusia hingga hilang rasa syukurnya terhadap karunia Allah, serta selalu menyemaikan benih-benih pertentangan dan pertikaian diantara manusia.

Dan yang lebih dahsyat lagi syaithan akan membuat manusia ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an. Allah berfirman:

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya[ QS. Al-A’raaf 36]

Telah diungkapkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an bagaimana menyelamatkan diri dari bisikan syaithan. Dan petunjuk ini amat penting bagi orang yang beriman yang takut kepada Allah dan menginginkan kehidupan akhirat yang menyenangkan agar terhindar dari setiap bisikan syaithan yang menyesatkan yang akan memalingkan manusia dari jalan yang lurus.

hidup-dalam-ketetapan-islam-artikel-islam-mta2

Hidup dalam ketetapan Islam dan tidak menyekutukan Allah, kemudian meneguhkan pendiriannya atas kebenaran Islam, maka akan berkahir dengan kebahagian hidup dalam surga yang telah Allah janjikan. Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: «Tuhan kami ialah Allah» kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): «Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu».[QS. Fushilat 30].

Tidak ada pilhan lain bagi yang menginginkan surga, hanya ada satu jalan menuju surga yakni hidup berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Dan tidak terpengaruh oleh bisikan-bisikan syaithan.

Syaithan akan menjauhkan manusia dari AlQur’an, karena syaithan tahu kalau surga tidak akan pernah terbuka bagi orang yang mendustakan ayat Allah (Roe)

Indonesia Guru Toleransi Negara Lain

silatnas-2-2015-mta-stadion-gbkJAKARTA – Merebaknya radikalisme dan terorisme yang ditampilkan melalui kekejaman ISIS, menjadikan Islam banyak disorot dunia internasional. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia pun banyak diharapkan menjadi contoh wajah Islam yang demokratis.

Kepala Staf Presiden Teten Masduki mengatakan, banyak negara mengaku kagum dengan stabilitas keamanan di Indonesia yang salah satunya disumbang oleh tingginya tingkat toleransi antar umat beragama.

“Banyak negara yang sekarang berguru ke Indonesia, belajar mengembangkan toleransi,” ujarnya usai menghadiri Silaturahim Nasional (Silatnas) yang dihadiri 70 ribu warga Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Minggu, (27/12).

Menurut Teten, di forum-forum internasional, Indonesia seringkali didaulat untuk berbagi pengalaman bagaimana membangun kultur kerukunan beragama. Dengan latar agama dan etnik yang beragam, Indonesia relatif jauh lebih rukun.

“Karena itu, banyak permintaan agar Indonesia menjadi leader (pimpinan) dalam membangun peradaban Islam dunia yang menonjolkan kedamaian,” kata Teten yang hadir mewakili Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tengah mengadakan kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur (NTT).

Teten mengakui, masih ada riak-riak kecil dalam kehidupan beragama di Indonesia, misalnya kasus perusakan masjid di Tolikara Papua maupun kasus perusakan gereja di Singkil Aceh. Selain itu, ada pula beberapa kelompok radikal di Indonesia.

“Untuk kasus bernuansa SARA, sikap pemerintah jelas, mengedepankan dialog untuk menjembatani perbedaan,” ucapnya.

Ketua Umum Pusat MTA Ahmad Sukina menambahkan, aksi terorisme jauh dari nilai-nilai Islam. Menurut dia, Islam senantiasa mengedepankan ajaran sebagai rahmatan lil alamin atau rahmat seluruh alam. “Islam itu menjunjung tinggi kesantunan dan kelembutan, bukan kekerasan,” ujarnya. (owi)

MTA Perwakilan Merauke Resmi Dikukuhkan

peresmian-perwakilan-merauke-mtaSOLO- Majlis Tafsir Al Quran (MTA) Perwakilan Merauke, Papua, resmi dikukuhkan dalam acara Silaturahim Nasional (Silatnas) MTA 2015 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Ahad (27/12/2015) lalu.

Ketua MTA Perwakilan Merauke, Suyitno mengaku sangat bersyukur dan terharu atas pengukuhan yang dilakukan langsung oleh Pimpinan Pusat MTA, Al Ustadz Drs Ahmad Sukina tersebut. Apalagi, saat pengukuhan kemarin disaksikan lansung oleh lebih dari 70.000 jemaah yang memadati GBK.

“Alhamdulillah, MTA Merauke ikut diresmikan pada tanggal 27 Desember kemarin. Kami sangat senang bisa diresmikan dan rasanya tak percaya. Warga juga sangat mendukung atas peresmian itu,” jelas Suyitno saat berbincang dengan Dita Almaira dalam acara Kabar Persada di Radio Persada FM, Rabu (30/12/2015).

Selain terharu karena telah diresmikan, Suyitno juga sangat senang bisa bertemu dengan warga MTA lainnya dalam acara Silatnas kemarin. “Saya bisa bertemu saudara-saudara dari seluruh Tanah Air. Ada yang dari Aceh, Sulawesi, juga Papua. Sangat terharu bisa bertemu dalam acara seperti itu,” jelasnya.

Lalu, bagaimana awal mula MTA Perwakilan Merauke ini terbentuk? Suyitno mengatakan, awalnya ia merupakan pendengar Radio Persada FM yang mendengarkan siaran melalui parabola. “Saya tahu Radio Persada dari saudara saya yang sudah mengaji di binaan Jayapura. Saya lalu mencari di parabola dan ternyata ada pengajian itu. Saya simak selama tiga bulan dan saya yakin inilah yang pas untuk kehidupan. Hanya Alquran dan sunnah yang pantas menjadi pegangan,” ujar Suyitno.

Setelah mendengarkan sendiri, Suyitno lantas memberi tahu kepada teman-temannya yang lain untuk ikut mendengarkan. Gayung bersambut, sejumlah temannya ikut rajin mendengarkan. “Awalnya empat orang berkumpul dari rumah ke rumah. Yakin bahwa inilah yang benar, lalu kami berani mendirikan pengajian. Selalu menyimak pengajian setiap Ahad maupun siaran ulangnya. Alhamdulillah sampai sekarang terus berkembang dan ditinjau dari pusat,” kata Suyitno.

Berjalan beberapa waktu, mereka memohon kepada pengurus MTA pusat agar diresmikan. “Setelah resmi kan ada kekuatan secara hukum, mengaji menjadi lebih tenang dan bersemangat,” pungkasnya. Ida Aisha

Transit Empat Kali, Ketua Perwakilan Merauke Terharu Bisa Hadiri Silatnas MTA 2015

mui-pusat-silatnas-2-gbkSOLO- Perjalanan panjang ditempuh Suyitno, Ketua MTA Perwakilan Merauke untuk menghadiri acara Silaturahim Nasional (Silatnas) MTA 2015 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Ahad (27/12/2015) lalu. Perjuangannya tak sia-sia sebab kini ia dan rekan-rekannya di Merauke bisa mengaji dengan nyaman dan tenang.

Berbincang dengan Dita Almaira dalam program Kabar Persada di Radio Persada FM, Suyitno mengatakan dirinya harus transit beberapa kali sebelum sampai ke Jakarta. “Jadi kami berangkat dari Merauke pada Selasa, 22 Desember 2015 ke Solo. Dari Merauke naik pesawat transit di Jayapura, kemudian transit di Makassar, transit Surabaya, baru tidak di Solo,” terang Suyitno yang saat wawancara masih berada di Kota Solo.

Setiba di Kota Solo, selanjutnya Suyitno dan rekannya dari Merauke bergabung dengan rombongan jemaah dari Cabang Jebres 2, Solo. “Saya ke Jakarta dengan Pak Widodo selaku Sekretaris,” imbuhnya.

Kini setelah selesai Silatnas, Suyitno tak langsung kembali ke Merauke. Rencananya, Suyitno ingin tinggal di Solo selama sebulan untuk menimba ilmu agama. “Saya masih berada di Gedung Pusat MTA di Solo. Rencanya sebulan di sini untuk memperdalam ilmu agama untuk dibawa pulang ke Merauke,” jelasnya.

Selama di Solo, Suyitno  rajin mengikuti kajian di cabang MTA terdekat. Ia pun menyatakan rasa senangnya saat bertemu dengan 160 warga MTA Pekanbaru, Riau yang juga berkunjung ke Gedung Pusat MTA di Jalan Ronggowarsito Nomor 111A Solo, seusai Silatnas 2015. “Saya mengikuti kajian gelombang di majlis terdekat agar dapat ilmunya.”

Tak lupa, Suyitno berpesan kepada warga di Merauke agar selalu istiqomah dalam mengaji. “Pesan saya kepada warga Merauke mudah-mudahan selalu istiqomah dalam mengaji. Bagi yang sudah mendengarkan pengajian di radio, mari segera bergabung,” pungkasnya. Ida Aisha

1 2